LAPORAN TERTULIS

AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

DI UPT SDN 12 API-API BAYANG



Oleh :

 

JULI HARMET, S.Pd

 


 

 
 

CALON GURU PENGGERAK  ANGKATAN 4

KABUPATEN PESISIR SELATAN

PROVINSI SUMATERA BARAT

2022


A.      Latar Belakang

 

Berpengalaman dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa tujuan pendidikan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun dan peserta didik sebagai bijinya. Maka petani akan merawat benih benih yang disemai dari gangguan hama yang akan merusak benih benih itu. Kita menyadari dengan landasan pemikiran KHD ini , kita dapat mendidik murid-murid kearah merdeka belajar dan berpihak pada murid. Namun seiring perkembangan zaman, tanpa kita sadari , sebagai pendidik kita sudah keluar dari jalur pemikiran KHD. Masih ada pendidik yang bersikap tidak sesuai kaidah kaidah sebagai pendidik. Ini terlihat pada perkembangan mental dan karakter peserta didik yang beragam di lingkungan sekolah.

Melihat kondisi seperti ini saya akan menguraikan rancangan rencana aksi saya tentang penerapan budaya positif dengan konsep segitiga restitusi. Budaya positif merupakan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Untuk menciptakan suasana yang aman, menyenangkan diharapkan semua guru yang ada dilingkungan sekolah memahami konsep segitiga restitusi. Dalam penyelesaian kasus yang ada disekolah pendidik masih menggunakan posisi control sebagai penghukum dan pembuat rasa bersalah, belum menerapkan posisi control sebagai manajer. Saya merasa prihatin melihat kondisi seperti ini dimana murid selalu ditekan, dimarahi dengan bahasa yang membuat hati murid tersakiti dan menciutkan mental. Murid – murid tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan pendapat mereka, kenapa mereka melakukan kesalahan.

Sebagai calon guru penggerak, saya ingin berbagi pengalaman dengan rekan guru lainnya. Bagaimana menerapkan budaya positif dilingkungan sekolah yang berpihak pada murid. Saya ingin berbagi pengalaman dan ilmu yang saya pelajari dan pahami dari modul-modul yang sangat bermanfaat, membuka wawasan untuk dapat mengimbaskan dan diterapkan di lingkungan sekolah. Budaya positif dilingkungan sekolah dapat mewujudkan suasana yang menyenangkan, dan aman bagi murid. Budaya positif di lingkungan sekolah dapat meningkatkan prestasi, motivasi, inovasi, berfikir kritis dan munculnya nilai nilai profil pelajar pancasila. Murid murid merasa aman dan betah dilingkungan sekolah. Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Menurut bapak Ki Hadjar Dewantara  bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin disini adalah disiplin diri yang memiliki motivasi dalam diri masing – masing individu.

A.      TUJUAN

Ø  Untuk menumbuhkan budaya positif dilingkungan sekolah dengan konsep segitiga restitusi

Ø  Budaya posistif dengan konsep segitiga restitusi menciptakan murid berdisiplin positif dan menjadi murid merdeka dalam belajar

Ø  Menerapkan segitiga restitusi dapat membentuk sikap murid yang reflektif, kritis, kreatif, terbuka dan dapat menciptakan nilai nilai profil pelajar pancasila

 

B.       Deskripsi Aksi Nyata Di Kelas

Sekolah merupakan tempat murid – murid untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Sekolah tidak hanya sebagai tempat menuntut ilmu , tetapi juga tempat untuk bermain, mengembangkan diri sesuai dengan bakat dan potensi yang mereka miliki sesuai kodrat nya masing-masing. Sekolah juga tempat membentuk karakter dan sikap yang tertuang pada KI.1 dan KI.2 sesuai kurikulum K.13. Murid – murid cenderung mendapatkan motivasi , nasehat dan dukungan secara ekstrinsik. Ilmu pengetahuan dan wawasan yang murid – murid dapatkan tidak hanya pengetahuan dibidang akademik saja, akan tetapi pengetahuan untuk hidup saling menghargai sesama, berdisiplin, tanggung jawab, dan hidup bersosial, bermusyawarah bagi diri individu itu sendiri maupun di lingkungan keluarga dan lingkungan  masyarakat yang akan bermanfaat bagi murid-murid itu sendiri.

Pengalaman dan pengetahuan yang murid-murid dapatkan pada lingkungan sekolah, ini merupakan pembiasaan budaya positif yang ada dilingkungan sekolah SDN 12 Api-Api Bayang. Budaya positif yang selalu membudaya mengajarkan murid-murid untuk hidup berdisiplin, bertanggung jawab, mandiri, kreatif dan berakhlak mulia serta berkarakter. Budaya ini dapat terwujud karena kesadaran kita bersama kolaborasi guru dan warga sekolah dalam membentuk manusia yang seutuhnya. Guru merupakan ujung tombak dalam menciptakan budaya positif dilingkungan sekolah. Guru yang selalu menuntun murid-murid secara langsung. Tidak dapat dipungkiri guru merupakan pelita dalam kegelapan. Untuk itu, Guru harus mampu menciptakan lingkungan yang menyenangkan di kelas pada saat proses belajar mengajar.

Guru sebagai pemimpin pembelajaran yang selalu memberikan teladan untuk memberikan contoh penerapan dan pembiasaan budaya positif di kelas dan dilingkungan sekolah. Guru sebagai pemberi ide, gagasan dan prakarsanya sehingga murid-murid terinspirasi untuk menjadi lebih baik dan memiliki nilai-nilai budaya positif. Guru sebagai pendorong, pemberi motivasi sehingga murid-murid bersemangat dalam melakukan suatu hal yang positif yang menumbuhkan jiwa profil pelajar panca sila.


Pada aksi nyata yang saya lakukan di sekolah tempat saya bertugas mengenai segitiga restitusi. Saya seorang guru mata pelajaran Pendidikan Kesehatan dan Olahraga mengajar pada siswa  tinggi yaitu kelas 4-6, Selain itu saya juga sebagai guru Pembina/pelatih kegiatan ekstra kurikuler. Sebagai guru di jenjang SD tantangan nya sangat berat. Karena saya mengajar murid-murid yang masih anak-anak yang merupakan murid-murid pada masa mau beranjak Pra Remaja. Disini mereka  cendrung untuk mencoba hal-hal yang baru. Keunikan mereka sering disalah artikan, sehingga mereka jadi memberontak dan mereka belum bisa memilah sikap mereka yang dianggap salah atau benar. Nah dengan situasi ini saya sebagai calon guru penggerak memaparkan kegiatan aksinyata budaya positif yang sudah saya lakukan di kelas dan lingkungan sekolah. Budaya positif yang saya lakukan sangat berdampak pada proses pembelajaran dan prestasi murid-murid.

Adapun budaya positif yang sudah saya lakukan pada kelas yang saya ampu dan lingkungan sekolah diantanya:

1.    1.  Mensosialisasikan pada teman teman guru pentingnya kolaborasi dalam mewujudkan budaya positif di kelas dan lingkungan sekolah UPT. SDN 12 Api-Api Bayang.




222.1.      Berkolaborasi bersama dengan murid-murid untuk mengembangkan bakat dan minat yang ada pada diri mereka sesuai dengan kodrat mereka masing-masing




Sebagai guru Mapel Pendidikan Jasmani Kesehatan da Olahraga, saya tidak pernah memaksakan pada murid-murid saya untuk harus mau berolahraga.akan tetapi memberikan kepada gambaran dan manfaat dari olahraga yang mereka lakukan,sehingga mereka yang yakin akan penting nya berolahraga,sehingga ketika jam olahraga tiba murid-murid yang tidak mau kehilangan pembelajaran mereka.  Bahkan ketika jam pembelajaran olahraga habis mereka minta tambahan waktu untuk terus melaksanakan kegiatan olahraga.Capaian apa yang harus mereka capai. Mengajar dengan memahami bakat dan minat murid-murid maka suasana kelas akan menyenangkan. Murid-murid akan memilih dan berfikir secara bebas apa feedback nya kedepan.

3.Menuntun murid – murid dan menerapkan segi tiga restitusi dalam proses belajar dan mengajar

Saya selalu membimbing semua murid-murid saya dalam melaksanakan tugas saya sebagai guru Pendidikan Jasmani dan Olahraga.dan membimbing mereka untuk mendapatkan derajat kesehatan sesuai dengan umur mereka,sehingga setelah kita selesai melaksanakan kegiatan murid-murid merasa senang dengan kegiatan yang sudah mereka lakukan






4. Setiap jum’at pagi di sekolah saya UPT SDN 12 Api-Api juga  melaksanakan kultum dengan kegiatan-kegiatan yang langsung dilakukan murid-murid disekolah,seperti ceramah Kultum,baca ayat pendek,Puisi keagamaan dan juga kegiatan Qasidah Rebana yang mana disini kita memberikan mereka keluasan dalam mengekpresikan kegiatan mereka sehingga tertanam dalam diri mereka ilmu agama dan budaya yang berguna  untuk membentuk karakter yang religious

D.TOLAK UKUR

1. Peserta didik mampu menyadari kesalahan mereka tentang  kesepakatan kelas dengan segala konsekwensinya.

2. Peserta didik mampu mengaplikasikan budaya positif dalam aktivitas sehari – hari .

3. Peserta didik mampu mengadopsi nilai-nilai profil pelajar pancasila dalam proses pembelajaran

 

LINIMASA TINDAKAN YANG DILAKUKAN

1. Mensosialisasikan kepada warga sekolah tentang penerapan budaya positif dilingkungan sekolah terkait segitiga restitusi dalam kegiatan pembelajaran dan dilingkungan sekolah. Sehingga warga sekolah Memberikan keteladan kepada peserta didik .

2. Berkolaborasi dengan teman teman guru agar bersama-sama  untuk mengerakan penerapan budaya positif  tentang konsep segitiga restitusi.

3. Menciptakan budaya positif dilingkungan sekolah secara konsisten. Diantaranya, konsep segitiga restitusi, keyakinan kelas, lima posisi control dan pemenuhan kebutuhan dasar pada murid.

4. Mengajak siswa berkolaborasi agar mereka memahami budaya positif dilingkungan sekolah, sehingga motivasi instrinsiknya muncul.

5. Saling bekerja sama dan saling mengingatkan dalam belajar dan berbagi tentang budaya positif di lingkungan sekolah.

Dukungan yang dibutuhkan

1. Perlu dukungan dari kepala sekolah selaku pemimpin segala lini yang ada dilingkungan sekolah

2. Perlu dukungan dari teman-teman guru, untuk berkolaborasi agar penerapan budaya positif dapat terlaksana dengan baik dan konsisten

3. Perlu dukungan dari warga sekolah untuk bekerja sama memberikan keteladan tentang penerapan budaya positif di lingkungan sekolah.

4. Dan tak kalah pentingnya dukungan dari wali murid, komite sekolah dan masyarakat di sekitar sekolah.























Komentar

Postingan populer dari blog ini

3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual -Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

REFLEKSI TERBIMBING PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN